Fenomena Turunnya Literasi Digital di Tengah Ledakan Teknologi AI
Di tengah euforia kecerdasan buatan (AI) yang kian merambah ke semua lini kehidupan—dari pekerjaan, hiburan, hingga pendidikan—sebuah fakta ironis muncul: tingkat literasi digital masyarakat justru mengalami penurunan.
Laporan terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta berbagai lembaga riset digital mencatat adanya penurunan kemampuan masyarakat dalam memahami, menganalisis, dan menggunakan teknologi digital secara aman dan bertanggung jawab.
Dalam dua tahun terakhir, indeks literasi digital nasional turun hingga lebih dari 0,10 poin, terutama dalam aspek keamanan digital, etika bermedia, dan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi online. Artinya, meski masyarakat makin sering menggunakan teknologi, belum tentu mereka paham cara menggunakannya dengan benar.
AI dan Ilusi Kemudahan: Saat Teknologi Berlari, Kesadaran Tertinggal
Kecerdasan buatan menawarkan efisiensi luar biasa: tugas administratif bisa diselesaikan dalam hitungan detik, analisis data jadi otomatis, dan informasi tersedia di ujung jari. Namun di sisi lain, kemudahan ini menciptakan ilusi “serba tahu” yang justru menurunkan kemampuan berpikir kritis pengguna.
Banyak masyarakat kini lebih percaya pada hasil AI tanpa melakukan verifikasi ulang. Padahal, sistem AI—terutama model generatif—masih bisa menghasilkan bias, kesalahan data, hingga manipulasi informasi.
Ketika kesadaran digital melemah, risiko penyebaran hoaks, penipuan online, dan kebocoran data pribadi meningkat tajam.
Fenomena ini juga mengkhawatirkan dunia pendidikan. Generasi muda kini akrab dengan alat bantu AI seperti ChatGPT, Copilot, atau Gemini, tetapi tidak semua dibekali pemahaman etika dan keamanan dalam penggunaannya. Alih-alih jadi alat bantu belajar, AI berpotensi menumbuhkan ketergantungan tanpa kemampuan kritis.
Data yang Bicara: Literasi Digital dan Risiko Keamanan Siber
Menurut survei Katadata Insight Center (2025), sebanyak 64% responden mengaku masih kesulitan membedakan berita palsu dan fakta di media sosial.
Sementara 45% pengguna internet di Indonesia tidak mengetahui bagaimana melindungi data pribadi mereka secara benar—terutama di platform yang menggunakan teknologi AI.
Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan BSSN mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 600 juta anomali serangan siber, meningkat 20% dibanding tahun sebelumnya. Banyak di antaranya terjadi karena lemahnya literasi digital individu: penggunaan password lemah, tidak mengaktifkan otentikasi ganda, atau sembarangan memberikan izin akses data.
Dengan kata lain, ancaman digital kini bukan hanya berasal dari hacker, tetapi juga dari ketidaksiapan pengguna dalam memahami dunia digital yang mereka gunakan setiap hari.
Mengapa Literasi Digital Menurun?
Penurunan literasi digital tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor utama yang memengaruhi antara lain:
- Ledakan informasi yang berlebihan
Masyarakat dibanjiri data setiap detik. Tanpa kemampuan memilah, pengguna mudah terjebak dalam bias algoritma dan misinformasi. - Kesenjangan digital antarwilayah
Akses internet memang meluas, tapi belum diikuti pemerataan kemampuan digital, terutama di daerah non-perkotaan. - Kurangnya edukasi dan pelatihan keamanan digital
Banyak pengguna hanya diajarkan cara “menggunakan” teknologi, bukan “memahami” risikonya. - Kecepatan adopsi AI yang tidak diimbangi pemahaman etika
Dalam beberapa kasus, pengguna lebih cepat mengandalkan AI daripada belajar menggunakannya dengan aman dan bertanggung jawab.
Solusi: Bangun Kembali Kepercayaan dan Kematangan Digital
Literasi digital bukan hanya soal tahu cara memakai teknologi, tapi juga mengerti dampak, risiko, dan tanggung jawab di baliknya.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta perlu bekerja sama membangun ekosistem digital yang sehat dan aman—dengan fokus pada pendidikan keamanan data, transparansi penggunaan AI, serta verifikasi identitas digital.
Di sinilah pentingnya solusi seperti Beeza, platform verifikasi digital dan keamanan dokumen yang dirancang untuk membantu bisnis dan individu melindungi identitas mereka secara otomatis dan terpercaya.
Dengan sistem e-KYC, face match, liveness detection, dan tanda tangan digital yang aman, Beeza membantu memastikan bahwa aktivitas digital dilakukan oleh pihak yang benar-benar sah—bukan hasil manipulasi atau penyalahgunaan data.
Langkah sederhana seperti verifikasi identitas dan autentikasi digital bisa menjadi pondasi besar untuk membangun kepercayaan digital di tengah derasnya arus teknologi AI.
Kecerdasan Digital, Bukan Sekadar Kecerdasan Buatan
Kita sedang hidup di era di mana teknologi semakin pintar, tapi manusia tidak boleh semakin lengah.
Menurunnya literasi digital adalah peringatan bahwa kemajuan teknologi tanpa kesadaran digital justru menciptakan celah baru bagi risiko siber dan kehilangan kepercayaan publik.
Sudah saatnya masyarakat dan bisnis berinvestasi pada keamanan dan kepercayaan digital—mulai dari langkah kecil seperti verifikasi, autentikasi, dan perlindungan data pribadi.Bangun keamanan digital dan kepercayaan pengguna Anda sejak hari ini.
👉 Kunjungi beeza.id untuk mengenal solusi verifikasi digital yang aman, cepat, dan efisien.